
Why do we behave as we do?
Why are we able to generate reasonable explanation of some actions but not of others?
Why do we have moods?
Why do we seem to know what we know?
![]()
Efforts to find ‘the cause’.
Comte: causal explanation adalah indikator untuk perkembangan tahap intelektual bagi peradaban manusiaMasa Pra Yunani Kuno : tahap intelektual masih primitif
yaitu theological/animism : atribusi ‘the cause’ pada dewa-dewa atau spiritual power. Contoh : Mesir
Manusia adalah pihak yang lemah. Perilaku ditentukan oleh kekuatan para spirit, maka tugas utama manusia adalah menjaga hubungan baik dengan mereka dengan cara menjunjung tinggi otoritas para spirit.
Kejayaan masa Yunani ditandai oleh pemikiran dari tiga filsuf besar: Socrates, Plato, Aristoteles; walau masih dipengaruhi pemikiran-pemikiran masa sebelumnya (masa Yunani Kuno).
Masa Yunani Kuno (Cosmological Period)
Adalah masa transisi dari pola pikir animisime ke awal dari natural science.
Penentu aktivitas manusia adalah alam atau lingkungan. Pada masa ini perilaku manusia berusaha diterangkan melalui prinsip-prinsip alam atau prinsip yang dianalogikan dengan gejala alam.
Ada 5 orientasi : naturalistic, biological, mathematical, eclectic, dan humanistic.
Ketiga tokoh tersebut : search for framework of human knowledge. Peletak dasar bagi kerangka pikir tipikal barat : rational, logic, objective.
Disebarluaskan oleh Alexander Agung (murid Aristoteles) melalui ekspansi militer.
Socrates
Sering disebut sebagai filsuf kontroversial, dangerous man for values of the day.
Faktanya : Tujuan utama Socrates adalah quest for the nature of true virtue and goodness a moral philosopher, “midfive” to knowledge of virtue
Typical Socratic Questions :
What is justice ? What is beauty ?
What is courage ? What is the good?
Virtue and knowledge sudah ada dalam diri seseorang, manusia dpt melakukan penilaian ttg. Baik-buruk secara intuitive meskipun mungkin tidak tahu mengapa, latent knowledge.
Action : pra-theory
Contemplation, explanation : theory, knowledge
Metode : Socratic, dialog, ‘bringing it out of people rather than describing it to them’.
Sumbangan bagi Psikologi/Science
Plato
Murid Socrates, berbeda dgn gurunya, datang dari keluarga terpandang dan terpelajar.
Menciptakan bidang epistemology, the study of knowledge, yang dalam psikologi berkembang menjadi psikologi kognitif.
What is knowledge? What is truth?
Dengan pandangan-pandangannya ini, Plato dikenal sebagai seorang dualist, memisahkan antara dunia ide dan materi.
Why do we act as we do?
Selain sebagai seorang epistemologist, Plato juga meneruskan tradisi gurunya sebagai seorang moral philosopher. Fokus penggaliannya juga bergerak sekitar human motivation.
Plato mendefinisikan tiga tingkatan soul :
Ketiga soul di atas yang mendorong orang untuk bertingkah laku. Berdasarkan tingkatan ketiga soul di atas, kelompok masyarakat terbagi atas tiga kelas juga.
Kritik : dalam kenyataannya penggambaran ketiga kelas ini sulit dipertanggungjawabkan konsistensinya, misalnya kelompok productive dan auxiliaries juga memiliki kemampuan reason, misalnya untuk kalkulasi dan perencanaan pekerjaannya.
Sumbangan bagi psikologi/science : penekanannya pada rationalitas dan objektivitas dari pengetahuan/ilmu dapat dikatakan meletakkan dasar pengetahuan alam (science) yang sampai sekarang masih dianut. Pemahaman mengenai drives/needs yang mendorong perilaku manusia adalah dasar bagi konsep motivasi dalam psikologi. Pembagian motivasi menjadi dasar Freudian.
Aristoteles
Murid Plato, mendasarkan diri pada pandangan gurunya, namun kemudian mengembangkan prinsip-prinsipnya sendiri.
Aristoteles adalah seorang biologist, seorang yang sangat empiris, percaya pada hal-hal natural dan riil. Tidak seperti Plato yang senang bergerak di bidang-bidang ideal, Aristoteles adalah seorang yang down to earh.
Bagi Aristoteles, psikologi adalah ilmu tentang soul. Soul menjadi bagian vital dari individu, menggerakkan, mengarahkan perkembangan organisma, dan mengaktualisasikan organisma menjadi eksistensinya yang sekarang. The soul is the form.
Dalam hal ini Aristoteles berbeda pandangan dengan gurunya yang memisahkan idea (yang dalam konsepsi Aristoteles dapat disamakan dengan soul) dan materi. Bagi Aristoteles, soul dan materi tidak dapat dipisahkan. Materi tidak berarti tanpa soul.
Tidak semua benda di alam punya soul, hanya organisma saja, yaitu nutritive soul, sensitive soul,rational soul.
Struktur dan Fungsi dari Rational/Human soul.
Motivation
Dibedakan antara motivasi pada hewan (appetite) dan motivasi pada manusia (wish). Manusia mengerti baik-buruk jadi konflik motivasionalnya bersifat moral ethic, sementara hewan bersifat pleasurable.
Comments
RSS feed for comments to this post